astera benner

  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Sejarah Berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Palembang

 







Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim yang berperan penting dalam sejarah Nusantara, terutama pada masa kejayaannya di abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi. Kerajaan ini memiliki pusat pemerintahan di wilayah Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. Berikut adalah artikel yang mengupas sejarah berdirinya Kerajaan Sriwijaya Palembang secara lengkap.

1. Asal Mula Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya diduga berdiri pada abad ke-7 Masehi di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Sumatera Selatan. Namun, awal mula pembentukan kerajaan ini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Beberapa teori menyebutkan bahwa Sriwijaya bermula sebagai kerajaan kecil yang kemudian berkembang menjadi kekuatan maritim melalui pengaruh Hindu-Buddha.

2. Pengaruh Hindu-Buddha

Agama Hindu-Buddha memiliki peran penting dalam perkembangan Sriwijaya. Penyebaran agama ini melalui perdagangan dan kontak dengan kerajaan-kerajaan India membantu memperkuat kedudukan Sriwijaya. Kuil-kuil Hindu-Buddha yang megah dibangun di Palembang menjadi simbol kebesaran dan keagungan kerajaan ini.

3. Masa Kejayaan

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi. Posisi geografis Palembang yang strategis sebagai pelabuhan perdagangan dan jalur pelayaran penting di Selat Malaka memberikan keuntungan ekonomi dan politik bagi Sriwijaya. Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, emas, perak, dan barang-barang langka dari Asia Tenggara.

4. Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan Sriwijaya didasarkan pada monarki dengan seorang raja sebagai pemimpin tertinggi. Raja Sriwijaya memiliki kekuasaan mutlak dan dianggap sebagai manifestasi Dewa Shiva. Selain raja, terdapat pula bangsawan dan pejabat kerajaan yang membantu mengelola pemerintahan dan perdagangan.

5. Pengaruh Budaya

Sriwijaya tidak hanya terkenal karena kekuasaan politik dan ekonominya, tetapi juga karena pengaruh budaya yang tersebar di wilayah Asia Tenggara. Pengaruh Hindu-Buddha tercermin dalam seni arsitektur, seni ukir, sastra, dan sistem tulisan seperti aksara Pallawa dan Kawi. Budaya Sriwijaya juga terlihat dalam bentuk seni ukiran batu, seperti arca Buddha yang ditemukan di situs-situs arkeologi.

6. Peninggalan Arkeologi

Banyak peninggalan arkeologi dari Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di sekitar wilayah Palembang dan sekitarnya. Beberapa situs penting yang menjadi saksi sejarah Sriwijaya antara lain Candi Muara Takus, Candi Karang Berahi, dan Candi Kedukan Bukit. Peninggalan-peninggalan ini memberikan bukti konkret mengenai kebesaran dan peradaban Sriwijaya pada masa lalu.

7. Keruntuhan

Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran pada abad ke-13 Masehi. Faktor-faktor seperti serangan dari luar, persaingan dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia Tenggara, serta perubahan arus perdagangan di Selat Malaka menyebabkan keruntuhan Sriwijaya. Meskipun demikian, warisan Sriwijaya tetap berlanjut dalam bentuk budaya dan identitas masyarakat Palembang hingga saat ini.


Kerajaan Sriwijaya Palembang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia dan Asia Tenggara. Kejayaannya sebagai kerajaan maritim dan pusat perdagangan memberikan dampak yang signifikan dalam hal perdagangan, budaya, dan agama di wilayah tersebut. Peninggalan-peninggalan arkeologi Sriwijaya menjadi saksi bisu yang memperkaya pemahaman kita tentang masa lalu dan sejarah peradaban Nusantara.

Tips gaya hidup sehat : Gaya hidup sehat dan sederhana

 







Pendahuluan:

Mengadopsi pola hidup sehat adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan kita. Namun, dengan jadwal yang sibuk dan tuntutan sehari-hari, seringkali sulit untuk memulai dan mempertahankan gaya hidup sehat. Artikel ini akan memberikan tips dan saran praktis tentang cara hidup sehat yang mudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

1. Makanlah Makanan Bergizi:

Nutrisi yang baik adalah kunci untuk menjaga kesehatan. Perhatikan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan serat, vitamin, mineral, dan nutrisi penting lainnya. Sertakan dalam diet Anda buah-buahan, sayuran, biji-bijian, protein sehat seperti ikan, kacang-kacangan, dan makanan rendah lemak. Hindarilah makanan olahan, makanan cepat saji, dan gula berlebihan.

2. Minum Air yang Cukup:

Air adalah komponen penting dalam menjaga fungsi tubuh yang optimal. Pastikan untuk minum air yang cukup setiap hari, sekitar 8 gelas atau sekitar 2 liter. Minumlah air putih secara teratur dan hindari minuman beralkohol, berkarbonasi, atau minuman manis yang mengandung gula tambahan.

3. Tetap Aktif dan Berolahraga:

Aktivitas fisik adalah bagian penting dari pola hidup sehat. Coba untuk tetap aktif setiap hari dengan berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik lain yang Anda nikmati. Luangkan waktu minimal 30 menit setiap hari untuk berolahraga, seperti jogging, berenang, atau melakukan latihan kekuatan. Sesuaikan rutinitas olahraga Anda dengan kemampuan dan minat pribadi.

4. Istirahat yang Cukup:

Istirahat yang cukup dan tidur yang berkualitas adalah penting untuk pemulihan dan regenerasi tubuh. Usahakan untuk mendapatkan tidur yang cukup setiap malam, sekitar 7-8 jam untuk orang dewasa. Hindari terlalu banyak begadang atau terlalu sedikit tidur karena dapat berdampak buruk pada kesehatan dan kinerja sehari-hari.

5. Kurangi Stres:

Stres dapat berdampak negatif pada kesehatan kita. Temukan cara untuk mengurangi stres dalam kehidupan sehari-hari Anda, seperti meditasi, pernapasan dalam, yoga, atau melakukan aktivitas yang Anda nikmati. Luangkan waktu untuk bersantai dan melakukan hal-hal yang membuat Anda senang dan bahagia.

6. Perhatikan Kesehatan Mental:

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Luangkan waktu untuk menjaga kesehatan mental Anda dengan cara mengelola emosi, berbagi dengan orang terdekat, atau berkonsultasi dengan profesional jika diperlukan. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika Anda merasa cemas, stres, atau terjebak dalam pola pikir negatif.

7. Jaga Kebersihan Diri dan Lingkungan:

Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar adalah langkah penting dalam mencegah penyakit dan menjaga kesehatan. Cuci tangan dengan sabun secara teratur, hindari menyentuh wajah dengan tangan yang tidak bersih, dan jaga kebersihan rumah serta tempat kerja Anda.

 

Kesimpulan:

Mengadopsi pola hidup sehat tidak harus sulit atau rumit. Dengan mengikuti tips dan saran yang mudah diimplementasikan ini, Anda dapat meningkatkan kualitas hidup dan menjaga kesehatan Anda dengan lebih baik. Penting untuk diingat bahwa perubahan kecil dalam gaya hidup sehari-hari dapat memiliki dampak besar dalam jangka panjang. Jadi, mulailah sekarang dan jadikan hidup sehat sebagai prioritas utama Anda.

Cara Menghentikan Bullying di Sekolah: Membangun Lingkungan Belajar yang Aman dan Ramah

 

Pendahuluan:

Bullying di sekolah merupakan masalah serius yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan emosional dan akademik siswa. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan ramah, langkah-langkah konkret harus diambil untuk menghentikan perilaku bullying. Artikel ini akan memberikan panduan tentang cara menghentikan bullying di sekolah.

1. Pendidikan dan Kesadaran:

Langkah pertama untuk menghentikan bullying adalah dengan menyediakan pendidikan dan kesadaran yang cukup kepada siswa, guru, dan staf sekolah tentang apa itu bullying, mengapa hal itu tidak dapat diterima, dan konsekuensinya. Program pendidikan yang menyeluruh dan terstruktur dapat membantu siswa mengembangkan empati, mengenali tanda-tanda bullying, dan melaporkannya kepada pihak yang berwenang.

2. Kebijakan Sekolah yang Tegas:

Setiap sekolah harus memiliki kebijakan yang jelas dan tegas terkait bullying. Kebijakan ini harus menjelaskan bahwa bullying tidak akan ditoleransi dan akan menghadapi sanksi yang sesuai. Penting bagi sekolah untuk memastikan bahwa kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten dan adil kepada semua siswa. Selain itu, perlu ada mekanisme yang mudah diakses untuk melaporkan insiden bullying dan perlindungan bagi pelapor agar tidak menjadi korban balas dendam.

3. Melibatkan Keluarga dan Komunitas:

Keluarga dan komunitas memiliki peran penting dalam menghentikan bullying. Sekolah harus bekerja sama dengan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan melibatkan mereka dalam mengenali dan menangani bullying. Mengadakan pertemuan, seminar, atau lokakarya yang melibatkan orang tua dan siswa dapat memperkuat kesadaran tentang pentingnya menghentikan bullying serta mendiskusikan strategi penanggulangannya.

4. Pembentukan Kelompok Anti-Bullying:

Sekolah dapat membentuk kelompok anti-bullying yang terdiri dari siswa, guru, dan staf sekolah. Kelompok ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, mendukung korban bullying, dan mendampingi pelaku bullying agar mengubah perilaku mereka. Kelompok ini juga dapat mengatur kegiatan atau kampanye anti-bullying untuk meningkatkan pemahaman tentang dampak negatif bullying.

5. Pelatihan Keterampilan Sosial:

Pendidikan keterampilan sosial adalah langkah penting dalam menghentikan bullying. Sekolah harus menyediakan program pelatihan keterampilan sosial yang melibatkan siswa untuk memahami pentingnya komunikasi yang baik, empati, pengelolaan emosi, dan penyelesaian konflik. Dengan mengembangkan keterampilan sosial, siswa akan lebih mampu mengatasi situasi yang berpotensi memicu bullying dan membangun hubungan yang sehat dengan teman sekelas mereka.

6. Mendukung Korban Bullying:

Penting bagi sekolah untuk memberikan dukungan yang kuat kepada korban bullying. Siswa yang menjadi korban bullying seringkali merasa terisolasi dan tidak aman. Sekolah harus menindaklanjuti laporan tentang bullying dengan serius, melindungi privasi korban, dan memberikan bantuan psikologis yang tepat. Selain itu, mengimplementasikan kegiatan yang mempromosikan inklusi dan persahabatan dapat membantu korban bullying merasa didukung dan diterima.

Kesimpulan:

Menghentikan bullying di sekolah adalah tanggung jawab bersama antara siswa, guru, staf sekolah, orang tua, dan masyarakat. Dengan pendidikan yang tepat, kebijakan yang tegas, dukungan yang kuat, dan pembentukan lingkungan belajar yang aman dan ramah, kita dapat mengurangi insiden bullying dan menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi semua siswa. Penting bagi semua pihak terlibat untuk bekerja sama aktif dalam menerapkan strategi ini, sehingga anak-anak dapat tumbuh dan belajar tanpa takut menjadi korban bullying.


Sejarah Komering (Suku Komering adalah Orang Lampung Juga)










Dalam kesempatan ini, penulis menyempatkan diri untuk membuat artikel yang berjudul “Suku Komering adalah Orang Komering Juga”. Hal yang mendasari penulis membuat artikel ini adalah di karena ada pandangan dari sebagian masyarakat Komering (Sumatera Selatan) yang tidak mengaku sebagai bagian dari masyarakat Lampung. Hal tersebut perlu dikaji dengan bukti sejarah mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering, terutama ke Lampung.

Untuk lebih jelasnya mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering (dikutip dari Wacana N usantara : Perjalanan Komering di Lampung) akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Asal-Usul Tujuh Kepuhyangan

Pada suatu ketika bergeraklah sekelompok besar turun dari dataran tinggi Gunung Pesagi menyusuri sungai dengan segala cara seperti dengan rakit bambu, dan lain-lain. Menyusuri Sungai Komering menuju muara. Menyusuri atau mengikuti dalam dialek komering lama adalah samanda. Kelompok pertama ini kita kenal kemudian dengan nama Samandaway dari kata Samanda-Di-Way berarti mengikuti atau menyusuri sungai.

Pada artikel yang berjudul Kebesaran Sriwijaya yang Tak Tersisa - The Rise of Sriwijaya Empire (Komentar Agung Arlan), disebutkan bahwa Kepuhyangan Samandaway yang merupakan kepuhyangan tertua komering menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Sriwijaya dengan Pu Hyang Jaya Naga (Sri Jaya Naga) sebagai Raja Sriwijaya pertama yang berkedudukan di daerah dekat Gunung Seminung dan kemudian berpindah ke Minanga (Setelah itu Pusat Ibu Kota berpindah ke Palembang, dan yang terakhir ke Jambi pada beberapa kurun masa Kerajaan Sriwijaya).

Kelompok ini akhirnya sampai di muara (Minanga) dan kemudian berpencar. Mereka menncari tempat-tempat strategis dan mendirikan tiga kepuhyangan. Kepuhyangan pertama menempati pangkal teluk yang agak membukit yang kini dikenal dengan nama Gunung Batu. Mereka berada di bawah pimpinan Pu Hyang Ratu Sabibul. Kepuhyangan kedua menempati suatu dataran rendah yang kemudian dinamakan Maluway di bawah pimpinan Pu Hyang Kaipatih Kandil. Kepuhyangan ketiga menempati muara dalam suatu teluk di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing. Di tempat ini kemudian dikenal dengan nama Minanga.

Tak lama setelah rombongan pertama, timbul gerakan penyebaran rumpun Skala Brak ini. Menyusul pula gerakan penyebaran kedua yang seterusnya mendirikan kepuhyangan keempat. Kepuhyangan keempat menemukan suatu padang rumput yang luas kemudian menempatinya. Mereka di bawah pimpinan Pu Hyang Umpu Sipadang. Pekerjaan mereka membuka padang ini disebut Madang dan kemudian dijadikan nama Kepuhyangan Madang. Tempat pertama yang mereka duduki dinamakan Gunung Terang.

Kepuhyangan kelima di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung. Dari kegemarannya ini dinamakan pada nama kepuhyangan mereka menjadi "Pemuka Peliung". Dari kepuhyangan ini kelak kemudian hari setelah Perang Abung menyebar mendirikan kepuhyangan baru, yaitu Kepuhyangan Banton oleh Pu Hyang Ratu Penghulu.

Kepuhyangan Pakuon oleh Puhyang itu dan Kepuhyangan Pulau Negara oleh Pu Hyang Umpu Ratu. Kepuhyangan Keenam di bawah pimpinan Pu Hyang Jati Keramat. Istrinya, menurut kepercayaan setempat, berasal dari atau keluar dari Bunga Mayang Pinang. Kepercayaan ini membekas dan diabadikan pada nama kepuhyangan mereka, yaitu Bunga Mayang (kelak kemudian hari, inilah cikal bakal Lampung Sungkai).

Kepuhyangan ketujuh di bawah pimpinan Pu Hyang Sibalakuang. Mereka pada mulanya menempatkan diri di daerah Mahanggin. Ada yang mengatakan kepuhyangan daya (dinamis/ulet). Kelak kemudian hari kepuhyangan ini menyebar mendirikan cabang-cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang, Rawan, Rujung, Kiti, Lengkayap, dan lain-lain. Nama-nama marga atau kepuhyangan yang berasal dari rumpun kepuhyangan ini banyak menggunakan nama Bhu-Way (buway).

Nama kebhuwayan ini dibawa orang-orang dari Skala Brak baru generasi Paksi Pak. Ketujuh kepuhyangan yang mendiami lembah sungai yang kini dinamakan "Komering". Masing-masing pada mulanya berdiri sendiri dengan pemerintahan sendiri. Di bawah seorang sesepuh yang dipanggil pu hyang. Mereka menguasai tanah dan air yang mereka tempati dengan batas-batas yang disepakati.

Ditinjau dari tujuan gerakan penyebaran (mempertahankan kelanjutan hidup kelompok untuk mencari tempat yang memberi jaminan kehidupan) serta cara mencari tempat yang strategis dalam mengikuti aliran sungai (samanda-diway), tampaknya Kepuhyangan Samandaway adalah yang pertama dan tertua. Orang-orang Samandaway menempati muara sampai di ujung tanjung (Gunung Batu).

2. Penyebaran Suku Komering Ke Lampung

Tak diragukan lagi, banyak orang Komering yang keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering untuk mencari penghidupan baru pindah ke wilayah yang dihuni etnis Lampung lain. Mereka membuka umbul maupun kampung (tiuh). Perpindahan kali pertama mungkin oleh marga Bunga Mayang yang kelak kemudian hari menjadi Lampung Sungkai/Bunga Mayang.

Seperti diutarakan Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997): "Kelompok Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang Komering di tahun 1800 M pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 s.d. 1834 M kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh Kebuayan Abung."

Oleh Abung, Sungkai dinyatakan sebagai Lampung Pepadun dan tanah yang sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan daerah sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang membawa nama kampung/marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering. Dari sini mereka kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya, dan sebagainya. Di daerah Sungkai Utara, seperti diceritakan Tjik Agus (64) pernah menjabat kacabdin di daerah ini, banyak penduduk yang berasal dari Komering Kotanegara. Mereka adalah generasi keempat sampai kelima yang sudah menetap di sana.

Perpindahan berikutnya, dilakukan Kebuayan Semendaway, khususnya Minanga. Mereka menyebar ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah/Pulau Panggung, Bunglai, Cempaka (Sungkai Jaya) di Lampung Utara. Ke Sukadana Lampung Timur dekat Negeri Tuho. Juga masuk ke Pagelaran, Tanggamus.

Dua Kampung Komering di Lampung Tengah (Komering Agung/Putih), menurut pengakuan mereka, berasal dari Komering. Nenek moyang mereka berbaur dengan etnis Abung di Lampung-Tengah. Akan tetapi, mereka kurang mengetahui asal kebuayan nenek moyangnya (mungkin orang yang penulis temui kebanyakan usia muda < 50 tahun). Mereka menyebut Komering yang di Palembang sebagai "nyapah" (terendam). Kemungkinan mereka juga berasal dari Minanga, karena kampong ini yang paling sering terendam air. Daerah Suka Banjar (Tiuh Gedung Komering, Negeri Sakti) Gedongtataan seperti diceritakan Herry Asnawi (56) dan Komaruzaman (70) (pensiunan BPN).

Penduduk di sana mengakui mereka berasal dari Komering (Dumanis) walaupun dialek mereka sudah tercampur dengan dialek Pubian. Tidak menutup kemungkinan dari daerah lain di Komering seperti Betung dsb, yang turut menyebar masuk daerah Lampung lain.
Melihat perjalanan dan penyebaran yang cukup panjang, peran dalam menyumbang etnis Lampung (Sungkai), serta menambah kebuayan Abung (Buay Nyerupa), tak ada salahnya kita mengetahui tentang dialek, tulisan, marga, maupun kepuhyangan yang ada di daerah Komering.

3. Kesimpulan

Melihat asal-usul suku Komering yang awal mula berasal dari Skala Brak lalu menyebar ke daerah dataran Way Komering dan kemudian sebagian menyebar ke Lampung, dipastikan “suku komering adalah orang Lampung juga”. Dimana bahasa, huruf tulisan dan adat istiadat yang digunakan sama dengan orang Lampung.

Orang Komering melakukan perpindahan ke Lampung Tahun 1800-an, masuk ke daerah Abung Kebuayan Nunyai dan menetap disana menurunkan Lampung Sungkai (Bunga Mayang).
Kebuayan Semendaway (Kebuayan Tertua Komering) dari Minanga melakukan penyebaran ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah (Pulau Panggung), Bunglai, Cempaka - Sungkai Jaya (Lampung Utara), Sukadana (Lampung Timur dekat Negeri Tuho) dan Pagelaran (Tanggamus).

Selain itu juga mendirikan dua kampung yaitu Komering Agung/Putih (Lampung Tengah) dan Tiuh Gedung Komering - Negeri Sakti (Gedongtataan).

Pada artikel “Sejarah Keratuan Lampung” yang telah terbit sebelumnya, di daerah Komering khususnya di Martapura dulu telah berdiri Keratuan Pemanggilan. Keturunan Keratuan Pemanggilan menyebar ke daerah pesisir Barat Krui, Teluk Semaka, atau Teluk Lampung. Hal ini menjadi bukti bahwa sejak dulu masyarakat Komering yang tinggal di sekitar Martapura telah melakukan perpindahan ke berbagai daerah di Lampung (Pra atau Sejaman dengan Kepaksian Pak Skala Brak Abad ke-14) sebelum Sungkai Bunga Mayang pindah ke Lampung tahun 1800-an. Dari bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa orang Komering (Tua) yang telah melakukan perpindahan ke Lampung pada Pra atau Sejaman Kepaksian Pak menurunkan Suku Lampung Pesisir Pemanggilan (Lampung Pesesekh di Cukuh Balak, Kota Agung, Talang Padang, Kedondong dan Way Lima). Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa “Suku Komering adalah Orang Lampung juga”.


Bukti Lain:
Dalam sajak dialek Komering/Minanga disebutkan: "Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, Sajaman rik tanoh pagaruyung pemerintah bunda kandung, Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako"
Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang, Sezaman dengan tanah pagaruyung pemerintah bundo kandung, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka", jadi Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa.